SELAMAT DATANG DI WEBSITE GATOTMENULIS ►► SEMOGA BERMANFAAT BAGI ANDA ►► SAYA TUNGGU KRITIK DAN SARAN ANDA KHATULISTIWA

Ketika 'Allah' dikapling-kapling

|0 komentar

Akhir-akhir ini ada peristiwa menarik yang terjadi di negara jiran Malaysia, warganya saling memperebutkan nama 'Allah'. Ada yang beranggapan nama itu hanya boleh digunakan oleh agamanya saja dan yang lain mengatakan nama itu juga berhak dipakai oleh agama lain. Dalam kenyataannya masalah itu bukan sekedar masalah agama tetapi sudah masuk ke rana politis setelah hukum memutuskan boleh dipakai oleh agama lain.
Sebenarnya ini adalah masalah lama yang terpendam bagai api didalam sekam. Sejak awal berdirinya negara kerajaan konstitusi Malaysia, telah di tetapkan bahwa Islam adalah agama negara, dan sejak awal mulanya ada semacam 'hukum tak tertulis' yang berbunyi; Melayu adalah Islam dan Islam adalah Melayu. Sejarah menyebutkan bahwa yang di sebut orang Melayu di Malaysia bukanlah berasal dari satu suku tunggal. Mereka barasal dari barbagai suku bangsa yang ada di nusantara yang nenek moyangnya datang ke semenanjung itu karena berbagai sebab; ada yang karena merantau/migrasi, hubungan pernikahan (juga terjadi pada keluarga raja-raja), dan bahkan yang dikerahkan untuk menambah jumlah orang melayu. Itu sudah fakta sejarah. Namun seperti yang telah disebutkan di atas bahwa yang di sebut orang melayu haruslah beragama Islam.
Perkembangan yang terjadi di Malaysia pada akhir-akhir ini dirasa oleh sebagaian warganya dinilai tidak sesuai dengan apa yang dicita-citakan oleh para pendiri bangsanya. Perbedaan jumlah orang melayu dengan yang non melayu semakin tipis, hal ini terjadi salah satunya adalah mereka yang sebelumnya di sebut orang melayu menjadi 'bukan orang melayu'. Mengapa? karena mereka tidak beragama Islam lagi.
'Mengapa demikian toh mereka warga negara juga', mungkin ada yang berkata demikian. Masalahnya adalah mereka yang menamakan diri 'orang melayu asli' itu (karena beragama Islam) beranggapan merekalah penjaga ajaran Islam yang sejati, tidak saja di Malaysia tetapi juga di Asia Tenggara. Ada statemen yang mengatakan bahwa orang Indonesia yang mengaku beragama Islam patut mempertanyakan keislamannya kembali karena kesemrawutan ajaran yang mereka terima dan terapkan.
Realitas yang tidak dapat diabaikan adalah bahwa di Malaysia Timur (Borneo) mayoritas warganya beragama Nasrani dan sejak sebelum negara Malaysia berdiri, ketika nenek moyang mereka menerima agama itu nama 'Allah' sudah digunakan sebagai sebutan Tuhan. Tentu golongan ini tidak bisa menerima ketika nama yang sudah bagian dari bahasa ibu kemudian dilarang bagi mereka.
Masalah ini menjadi rumit ketika memasuki rana politik. Kelompok pemerintah 'mendukung' pelarangan nama 'Allah' digunakan oleh agama lain, sedangkan kelompok oposisi 'menolak' monopoli nama 'Allah' hanya untuk agama tertentu. Bahkan PAS yang digolongkan sebagai partai politik Islam garis keras pun bersama barisan oposisi dalam hal ini.
Seperti yang disebutkan Nanang Pamudji bahwa negara sebagai bentuk sekuler dari agama. Apabila negara mengurusi warga maka agama mengurusi umat. Seperti yang dikatakan Nurcholis Madjid bahwa agama dan politik haruslah dapat ditempatkan pada posisinya masing-masing (Islam yes, Partai no?). Ijinkan saya berpendapat, bahwa antara agama dan politik hendaknya dapat dipisahkan walaupun agama dapat mewarnai politik dan demikian pula sebaliknya tetapi itu sebatas nilai-nilai. Banyak sekali contoh ketika keduanya saling menunggangi dan hasilnya jauh dari harapan. Seperti meramu bahan peledak dari dua bahan utama yang dapat menghasilkan ledakan dahsyat.
Mari belajar dari sejarah dan mari menyimak tentang apa yang terjadi di Malaysia akhir-akhir ini, dan mari berdoa bersama dengan harapan hal itu dapat diselesaikan dengan baik, tidak menjadi preseden buruk bagi orang yang mengku beragama, khususnya agama Islam. Satu hal lagi, marilah kita mencoba lebih mencintai negeri kita Indonesia dengan beragam agama dan suku bangsa, dengan berbagai warna-warninya, kebaikan dan keburukannya. Biarkan Allah menjadi milik kita semua.

Sikap Demokratis: Antara Ucapan Dan Tindakan

|0 komentar
Pada masa sekarang ini orang akan tersinggung bahkan marah bila ia di anggap tidak bersikap demokratis. Semua orang, khususnya yang sering muncul di media massa baik cetak maupun elektronik, yang menduduki jabatan politis maupun aktivis, mengatakan bahwa dirinya yang paling demokratis dibandingkan orang lain. Mereka yang dianggap tidak bersikap demokratis akan dihujat habis-hadisan, di demo berhari-hari. Apalagi bila yang dituduhkan itu sedang berada di lembaga politik, baik eksekutif, legislatif, atau yudikatif sekalipun. Lalu bagaimana dengan orang atau golongan yang ada di luar itu??
Akhir-akhir ini ada satu masalah yang menarik (dari sekian banyak masalah), yaitu tentang seseorang yang menulis sebuah buku yang katanya 'bisa manjadi kunci pembuka' untuk membuka pintu lemari kekuasaan yang 'katanya' penuh dengan sampah-sampah politik busuk. Kemudian 'katanya' pihak penguasa yang dianggap pemilik lemari itu merasa gerah dan akan melakukan pelarangan penerbitan, bahkan yang sudah beredar pun 'katanya' disuruh menariknya. Bahkan 'katanya' sebuah toko buku terbesar yang punya banyak jaringan pun takut memajang buku itu rak-rak tokonya. Tetapi toko-toko kecil dan penjaja buku pinggir jalan justru brani dan senang menjual buku 'panas' itu karena 'katanya' laris banyak dicari orang.
Di tv mereka saling berdebat. Mereka mempermasalahkan segala 'katanya-katanya' itu. Yang satu menuduh yang lain tidak bersikap demokratis. Dan yang lain mengatakan demokrasi bukan berarti bebas tanpa aturan, dan sebagainya. Antara yang pro dan kontra, antara yang merasa difitnah dan merasa itu fakta, mereka semua tidak mau dikatakan tidak bersikap demokratis.
Okelah kalau begitu...(mniru syair lagu), kata para pakar demokrasi; perdebatan adalah bagian dari sikap berdemokrasi...Lalu sampailah pada satu peristiwa, entah karena terlalu menghayati perdebatan atau terlalu asyik berdemokrasi, tiba-tiba lempar kata-kata menjadi lempar buku (khusus dewasa;anak kecil dilarang meniru).
Aku terkesimak!! Mengherankan!! Selama ini biasanya yang bertindak tidak demokratis adalah mereka yang berada pada posisi memengang kekuasaan, yang karena ingin mempertahankan kekuasaan sering kali melakukan cara-cara yang bisa dikategorikan 'sikap tidak demokratis'. Ini sebaliknya, seseorang yang bagian dari afiliasi pemegang kekuasaan di 'kick' dengan buku oleh seseorang yang berada di luar pemegang kekuasaan yang selama ini dianggap sebabai salah satu tokoh pro demokrasi, profesor akademisi yang tidak dapat di ragukan lagi tingkat intelektualnya. Tidak hanya jago teori tapi juga aktivis sejati.
Semoga ini bukan tren baru. Semoga ini tidak berkembang menjadi 'model' tirani minority; dengan anggapan yang menentang selalu demokratis, apapun caranya...

Lmg, 060110








Legality Oportunity Law

|0 komentar

Aku bukanlah orang yang terlalu mengerti dengan hukum dan sebenarnya tidak terlalu tertarik dengannya. Aku beranggapan hanya orang-orang bermasalah saja yang tertarik atau terlibat dengannya (maksudku orang umum/awam). selama ini yang kupahami didalam dunia hukum hanya ada warna hitam dan putih. Kalau ada warna abu-abu itu hanya oknum, dan aku malas membahas bagian ini.
Pada akhir-akhir ini aku mulai sedikit tertarik dengan masalah hukum (mungkin akibat media massa menjejaliku dengan berbagai kasus hukum), dan ternyata diluar masalah oknum yang membuat hukum menjadi abu-abu ada juga masalah sosial politik. Dalam hal ini warna abu-abu itu di beri nama 'rasa keadilan'. Coba bayangkan 'rasa', sesuatu yang abstrak dan punya seribu satu kategori. Siapa yang dapat menilai selera orang, publik apalagi massa tentang sesuatu makanan, apalagi yang berkaitan dengan sesuatu yang tak berwujud seperti rasa keadilan.
Lebih jauh lagi seorang pakar hukum, akademisi sekaligus praktisi (kalo gak salah Mahfid MD) mengatakan bahwa hukum itu ada dua sisi yaitu legality dan oportunity. Yang pertama keputusan pengadilan secara tegas didasarkan pada salah dan benar, hitam dan putih pada siapapun. Sedangkan yang kedua keputusan pengadilan harus didasarkan pada rasa keadilan. Sebagai contoh seorang yang diduga korupsi secara hukum tidak terbukti dan demi hukum harus dibebaskan dari segala dakwaan. Satu lagi contoh seorang miskin yang terbukti mencuri satu buah jambu monyet demi rasa keadilan harus dibebaskan dari segala dakwaan.
Wah pusing juga...semoga selamanya aku gak ada urusan dengan hal-hal ruwet seperti ini...

Lmg, 211209


Tidak Sportif Dalam Ajaran Wayang

|0 komentar

Beberapa hari yang lalu aku menghadiri acara perniakahan. Hiburan utamanya adalah wayang kulit yang dimainkan dari jam 12 siang hingga mendekati subuh. Dalang memainkan wayang dengan bahasa jawa krama yang tidak terlalu aku pahami.Memang benar aku orang Jawa tetapi aku tidak terlalu memahami bahasa Jawa Krama karena masa kecilku diluar jawa, walaupun demikian bukan berarti aku tidak mengereti wayang karena dimasa kecilku bapakku suka dan sering bercerita tentang pewayangan selain itu aku juga pernah membaca cerita bergambar tentang pewayangan ramayana dan mahabarat, bahkan yang sebelum jaman ramayana ataupun yang sesudah jaman mahabarata. Tetapi cerita yang di tampilkan sang dalang ini tidak pernah kudengar dan kubaca(bisa juga lupa...)

Tema ceritanya adalah mencarikan Kunti seorang jodoh/suami melalui sayembara. Dan sayembaranya adalah mencabut 'biting lanang' yang ditancapkan ditengah alun-alun. Siapapun yang berhasil mencabutnya berhak mendapatkan Kunti sebagai istri/prameswari. Sebenarnya sayembara itu berjalan dengan lancar sampai pada akhirnya dimenangkan oleh Narasoma yang memiliki ilmu Candabirawa.

Ketika sayembara sudah berakhir, datanglah Pandu bersama Kresna. Dan ketika Pandu mengetahui sayembara telah berakhir ia berniat pulang tetapi dicegah oleh Kresna dengan alasan 'takdir harus dipenuhi', apa itu? bahwa sudah menjadi 'rencana para dewa' Pandu harus beristrikan Kunti agar kelak ia memperoleh putra-putra yang disebut 'Pandawa'. Pandu tetap tidak mau karena ia tetap beranggapan sayembara telah selesai dan pemenangnya sudah jelas. Kresna tidak putus asa, ia memanas-manasi Narasoma dengan mengatakan, kemenangannya tidak sempurna apabila ia belum mengalahkan pandu. Karena dikatakan seperti itu ia pun terpancing emosi dan menantang Pandu.

Pandu yang digambarkan oleh dalang sebagai tokoh yang sangat bersih dan penyabar, tidak mau melayani tantangan Narasoma. Wakaupun diserang ia hanya menangkis dan menghindar. Kresna yang melihat hal itu menjadi pusing, namun ia tidak putus asa. Ia menghubungi Semar dan menjelaskan tentang 'takdir yang harus di penuhi' lalu meminta tolong kepadanya agar mau membujuk Pandu agar mau bertarung dengan Narasoma.Semar yang terpengaruh oleh argumen Kresna memenuhi permintaannya, membujuk Pandu dengan berbagai cara hingga akhirnya Pandu mau bertarung dengan Narasoma.

Pertarungan keduanya pun terjadi, tidak ada yang menang dan kalah. Akhirnyan Narasoma mengeluarkan ajian pamungkasnya yaitu ilmu candabirawa. Ajian itu berisi mahluk gaib yang apabila mati akan hidup lagi berlipat dua dan seterusnya. Tetapi ketika mahluk gaib itu menghadapi Pandu, ia merasa segan karena yang ada didepannya adalah sesosok manusia berhati bersih berdarah putih sehingga ia tidak mau bertarung dengan Pandu.

Karena ajian pamungkasnya tidak berhasil mangalahkan musuhnya, Narasoma mengaku kalah dan menyerahkan Kunti kepada Pandu tetapi dengan syarat ia juga mau memperistri adiknya yang bernama Mandim walaupun hanya istri kedua, dan Pandu pun memenuhi syarat itu.

Cerita ini punya banyak versi, sedangkan apa yang kupaparkan diatas hanya berdasarkan apa yang kusaksikan dalam pertunjukan wayang tersebut saja. walaupun banyak variasi aku rasa inti ceritanya secara umum sama, khususnya versi yang berkembang di jawa.

Kesimpulan yang dapat kutarik dari cerita wayang yang kusaksikan itu adalah; dalang tersebut melalui media wayang telah mengajarkan kepada penonton suatu cara-cara yang tidak sportif dalam mencapai tujuan. Apakah kesimpulanku salah???

Bayangkan, sang Kresna yang digambarkan sebagai titisan dewa Wisynu melakukan penghasutan dan provokasi. Dibantu oleh Semar(putra Sang Hyang Tunggal putra Sang Hyang Wenang) yang oleh sebagian orang jawa dianggap sebagai nabinya orang jawa.

Bila dihubungkan dengan kehidupan sosial politik masa kini dan yang sedang terjadi di Indonesia, sepertinya hampir sama. Aku tidak tahu apakah sang dalang sebelum mendalang menonton/membaca berita KPK, Century dsb sehingga itu secara tak sengaja terefleksi kedalam pekerjaannya ataukah orang-orang yang sedang terlibat keruwetan intrik itu memang telah belajar dan terinspirasi oleh cerita-cerita pewayangan seperti itu.

Aku masih berharap itu hanya kreasi dalang dalam menyederhanakan cerita(walau bahaya juga bagi orang awam), dan apa bila memang demikian pakemnya cerita wayang, aku bersyukur tidak terlalu mengerti wayang, bersyukur tidak mengerti bahasa krama yang digunakan dalam cerita itu, dan bersyukur generasi muda sekarang tidak menyukai wayang.

Semoga tulisan ini salah...

Lmg, 16/12




Mencoba Blog

|0 komentar
Sedang mencoba buat Blog.
Tekan sana tekan sini belajar sendiri.
Iseng-iseng siapa tau suatu saat berguna.

ternyata membuat tulisan itu tidak mudah...(16/12/09)

ketidak tahuan adalah anugrah bagi mereka yang ingin mencoba hal baru...(06/01/10)