SELAMAT DATANG DI WEBSITE GATOTMENULIS ►► SEMOGA BERMANFAAT BAGI ANDA ►► SAYA TUNGGU KRITIK DAN SARAN ANDA KHATULISTIWA: Tidak Sportif Dalam Ajaran Wayang

Tidak Sportif Dalam Ajaran Wayang


Beberapa hari yang lalu aku menghadiri acara perniakahan. Hiburan utamanya adalah wayang kulit yang dimainkan dari jam 12 siang hingga mendekati subuh. Dalang memainkan wayang dengan bahasa jawa krama yang tidak terlalu aku pahami.Memang benar aku orang Jawa tetapi aku tidak terlalu memahami bahasa Jawa Krama karena masa kecilku diluar jawa, walaupun demikian bukan berarti aku tidak mengereti wayang karena dimasa kecilku bapakku suka dan sering bercerita tentang pewayangan selain itu aku juga pernah membaca cerita bergambar tentang pewayangan ramayana dan mahabarat, bahkan yang sebelum jaman ramayana ataupun yang sesudah jaman mahabarata. Tetapi cerita yang di tampilkan sang dalang ini tidak pernah kudengar dan kubaca(bisa juga lupa...)

Tema ceritanya adalah mencarikan Kunti seorang jodoh/suami melalui sayembara. Dan sayembaranya adalah mencabut 'biting lanang' yang ditancapkan ditengah alun-alun. Siapapun yang berhasil mencabutnya berhak mendapatkan Kunti sebagai istri/prameswari. Sebenarnya sayembara itu berjalan dengan lancar sampai pada akhirnya dimenangkan oleh Narasoma yang memiliki ilmu Candabirawa.

Ketika sayembara sudah berakhir, datanglah Pandu bersama Kresna. Dan ketika Pandu mengetahui sayembara telah berakhir ia berniat pulang tetapi dicegah oleh Kresna dengan alasan 'takdir harus dipenuhi', apa itu? bahwa sudah menjadi 'rencana para dewa' Pandu harus beristrikan Kunti agar kelak ia memperoleh putra-putra yang disebut 'Pandawa'. Pandu tetap tidak mau karena ia tetap beranggapan sayembara telah selesai dan pemenangnya sudah jelas. Kresna tidak putus asa, ia memanas-manasi Narasoma dengan mengatakan, kemenangannya tidak sempurna apabila ia belum mengalahkan pandu. Karena dikatakan seperti itu ia pun terpancing emosi dan menantang Pandu.

Pandu yang digambarkan oleh dalang sebagai tokoh yang sangat bersih dan penyabar, tidak mau melayani tantangan Narasoma. Wakaupun diserang ia hanya menangkis dan menghindar. Kresna yang melihat hal itu menjadi pusing, namun ia tidak putus asa. Ia menghubungi Semar dan menjelaskan tentang 'takdir yang harus di penuhi' lalu meminta tolong kepadanya agar mau membujuk Pandu agar mau bertarung dengan Narasoma.Semar yang terpengaruh oleh argumen Kresna memenuhi permintaannya, membujuk Pandu dengan berbagai cara hingga akhirnya Pandu mau bertarung dengan Narasoma.

Pertarungan keduanya pun terjadi, tidak ada yang menang dan kalah. Akhirnyan Narasoma mengeluarkan ajian pamungkasnya yaitu ilmu candabirawa. Ajian itu berisi mahluk gaib yang apabila mati akan hidup lagi berlipat dua dan seterusnya. Tetapi ketika mahluk gaib itu menghadapi Pandu, ia merasa segan karena yang ada didepannya adalah sesosok manusia berhati bersih berdarah putih sehingga ia tidak mau bertarung dengan Pandu.

Karena ajian pamungkasnya tidak berhasil mangalahkan musuhnya, Narasoma mengaku kalah dan menyerahkan Kunti kepada Pandu tetapi dengan syarat ia juga mau memperistri adiknya yang bernama Mandim walaupun hanya istri kedua, dan Pandu pun memenuhi syarat itu.

Cerita ini punya banyak versi, sedangkan apa yang kupaparkan diatas hanya berdasarkan apa yang kusaksikan dalam pertunjukan wayang tersebut saja. walaupun banyak variasi aku rasa inti ceritanya secara umum sama, khususnya versi yang berkembang di jawa.

Kesimpulan yang dapat kutarik dari cerita wayang yang kusaksikan itu adalah; dalang tersebut melalui media wayang telah mengajarkan kepada penonton suatu cara-cara yang tidak sportif dalam mencapai tujuan. Apakah kesimpulanku salah???

Bayangkan, sang Kresna yang digambarkan sebagai titisan dewa Wisynu melakukan penghasutan dan provokasi. Dibantu oleh Semar(putra Sang Hyang Tunggal putra Sang Hyang Wenang) yang oleh sebagian orang jawa dianggap sebagai nabinya orang jawa.

Bila dihubungkan dengan kehidupan sosial politik masa kini dan yang sedang terjadi di Indonesia, sepertinya hampir sama. Aku tidak tahu apakah sang dalang sebelum mendalang menonton/membaca berita KPK, Century dsb sehingga itu secara tak sengaja terefleksi kedalam pekerjaannya ataukah orang-orang yang sedang terlibat keruwetan intrik itu memang telah belajar dan terinspirasi oleh cerita-cerita pewayangan seperti itu.

Aku masih berharap itu hanya kreasi dalang dalam menyederhanakan cerita(walau bahaya juga bagi orang awam), dan apa bila memang demikian pakemnya cerita wayang, aku bersyukur tidak terlalu mengerti wayang, bersyukur tidak mengerti bahasa krama yang digunakan dalam cerita itu, dan bersyukur generasi muda sekarang tidak menyukai wayang.

Semoga tulisan ini salah...

Lmg, 16/12




Tidak ada komentar:

Posting Komentar